Tomohon- Sinode Am Gereja (SAG) Sulutteng sukses menggelar Sekolah Pluralisme kedua yang dilaksanakan di Panti Samadi Tomohon, 23 – 26 Oktober 2017. Puluhan pemuda lintas agama yang hadir dalam kegiatan ini berkomitmen untuk membangun jejaring untuk melakukan kerja-kerja menjaga perdamaian.
“Sekolah pluralisme ini menghasilkan puluhan pemuda, yang di akhir pelatihan selama empat hari ini sudah menyatakan komitmen untuk terus menjaga perdamaian,” papar Pdt Johan Mandey, Sekretaris Departemen Masyarakat SAG Sulutteng saat menutup secara resmi kegiatan itu, Kamis (26/10/2017).
Mandey berharap setelah peserta pulang ke komunitas masing-masing bisa berupa menebarkan semangat pluralisme serta berjejaring dengan komunitas lain untuk membangun perdamaian.
Dalam evaluasi akhir kegiatan, Hasnawati Mokoagouw utusan Jemaat Ahmadiyah mengungkapkan, kegiatan Sekolah Pluralisme sangat positip untuk bisa saling mengenal dengan kawan-kawan yang berbeda keyakinan dan suku. “Dengan mengenal, saling memahami, kita bisa menghormati perbedaan itu,” papar Hasna.
Senada disampaikan Zulkifli, mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado. “Memang di kampus kita belajar juga tentang agama-agama. Tapi di sekolah pluralisme ini kita berproses bersama dengan kawan-kawan yang berbeda agama,” papar Zulkifli.
Putri Kapoh dari pemuda Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM) mengungkapkan, kegiatan seperti sekolah pluralisme merupakan sebuah langkah cerdas yang diambil oleh SAG Sulutteng menyikapi isu-isu kebinekaan di Indonesia khususnya lagi di Sulut. “Dengan adanya kegiatan ini, tentu membuktikan bahwa berbeda itu indah asalkan ada sikap saling menerima dan mengahargai satu dengan yang lain, karena di balik berbagai macam perbedaan ada persamaan yang mempersatukan kita, yaitu kasih dan kecintaan kita terhadap perdamaian,” ungkap Putri.
Untuk pelaksanaan Sekolah Pluralisme tahap dua ini, diikuti 24 pemuda dari berbagai denominasi gereja seperti Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM), Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM), Gereja Masehi Injili Sangihe dan Talaud (GMIST). “Selain itu dari Katolik, dan Islam. Dari Islam, hadir juga penganut Ahmadiyah serta aktivis mahasiswa dari Institut Agama Islam Negeri dan Nahdathul Ulama,” papar Sekretaris Departemen Misi, SAG Sulutteng, Deeby Momongan.
Untuk tim fasilitator terdiri dari Pdt Elga Sarapung (Direktur Interfidei Yogyakarta), Denni Pinontoan (Teolog UKIT), Yoseph E Ikanubun (Ketua AJI Manado), Christian Billy Waworuntu dan Rusli Umar (Ketua GP Ansor Manado) serta Ratna Ruindungan dari SAG Sulutteng.(***)

No comments:
Post a Comment