SEJUMLAH anak muda memasuki aula Gereja Masehi Injili
Bolaang Mongondow (GMIBM) Imanuel Mopuya, Kecamatan Dumoga Utara, Kabupaten
Bolaang Mongondow, Sulut, Rabu (20/09/2017). Mereka sempat terhentak kaget,
karena kumandang adzan magrib dari sebuah masjid yang di samping gereja itu
seolah menyambut mereka.
“Sudah sejak tahun 1972, saat kampung Mopuya ini
dibangun, sejumlah rumah ibadah juga ikut dibangun. Ada mesjid, gereja, serta
pura,” ungkap Camat Dumoga Utara, I Ketut, saat pembukaan kegiatan sekolah pluralisme
yang dilaksanakan oleh Sinode Am Gereja (SAG) Sulutteng di Mopuya, Kamis
(21/09/2017).
Mopuya memang dipilih menjadi tempat pelaksanaan
kegiatan itu. “Karena memang menggambarkan pluralisme. Warganya hidup rukun
dalam perbedaan,” ujar Sekretaris Departemen Misi SAG Sulutteng, Deeby
Momongan.
Kegiatan sekolah pluralisme yang digagas SAG Sulutteng
merupakan pelatihan sekaligus live in yang diikuti sedikitnya 50 orang pemuda
dari berbagai denominasi gereja, serta lintas agama. “Ada perwakilan dari pemuda
Islam, dan Hindu juga dalam kegiatan ini,” ujar Deeby.
Sekolah pluralisme yang akan berlangsung hingga Sabtu,
23 September 2017 ini, pada hari pertama menghadirkan sejumlah pembicara
seperti, Sekjend SAG Sulutteng, Pdt Lamberty Mandagi, Wasekjen SAG Sulutteng,
Pdt Dr Eldon Matoneng, dan Ketua BPMS GMIBM, Pdt Ch Raintama Pangulimang.
Selain Deeby, Tim Fasilitator SAG Sulutteng terdiri dari
Pdt Elgha Sarapung, Denny Pinontoan, Yoseph E Ikanubun, dan Rusli Umar.
Penulis: Yoseph E Ikanubun

No comments:
Post a Comment