Saturday, August 25, 2018

Membangun Perdamaian dari Bumi Totabuan



SEJUMLAH anak muda memasuki aula Gereja Masehi Injili Bolaang Mongondow (GMIBM) Imanuel Mopuya, Kecamatan Dumoga Utara, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulut, Rabu (20/09/2017). Mereka sempat terhentak kaget, karena kumandang adzan magrib dari sebuah masjid yang di samping gereja itu seolah menyambut mereka.

“Sudah sejak tahun 1972, saat kampung Mopuya ini dibangun, sejumlah rumah ibadah juga ikut dibangun. Ada mesjid, gereja, serta pura,” ungkap Camat Dumoga Utara, I Ketut, saat pembukaan kegiatan sekolah pluralisme yang dilaksanakan oleh Sinode Am Gereja (SAG) Sulutteng di Mopuya, Kamis (21/09/2017).
Mopuya memang dipilih menjadi tempat pelaksanaan kegiatan itu. “Karena memang menggambarkan pluralisme. Warganya hidup rukun dalam perbedaan,” ujar Sekretaris Departemen Misi SAG Sulutteng, Deeby Momongan.
Kegiatan sekolah pluralisme yang digagas SAG Sulutteng merupakan pelatihan sekaligus live in yang diikuti sedikitnya 50 orang pemuda dari berbagai denominasi gereja, serta lintas agama. “Ada perwakilan dari pemuda Islam, dan Hindu juga dalam kegiatan ini,” ujar Deeby.
Sekolah pluralisme yang akan berlangsung hingga Sabtu, 23 September 2017 ini, pada hari pertama menghadirkan sejumlah pembicara seperti, Sekjend SAG Sulutteng, Pdt Lamberty Mandagi, Wasekjen SAG Sulutteng, Pdt Dr Eldon Matoneng, dan Ketua BPMS GMIBM, Pdt Ch Raintama Pangulimang.
Selain Deeby, Tim Fasilitator SAG Sulutteng terdiri dari Pdt Elgha Sarapung, Denny Pinontoan, Yoseph E Ikanubun, dan Rusli Umar.

Penulis: Yoseph E Ikanubun

No comments:

Post a Comment