Tomohon- Puluhan
pemuda dengan latar belakang suku, agama, dan budaya berproses bersama dalam
“Sekolah Pluralisme” yang diselenggarakan oleh Sinode Am Gereja (SAG) Sulawesi
Utara dan Tengah (Sulutteng) di Panti Samadi Tomohon, Senin – Kamis (23 –
26/10/2017).
“Sekolah pluralisme ini sudah yang kedua dilaksanakan,
setelah pada September 2017 lalu juga diselenggarakan di Mopuya, Kecamatan
Dumoga Utara, Kabupaten Bolaang Mongondow,” ungkap Sekjend SAG Sulutteng, Pdt
Lamberty Mandagi MTh, saat membuka Sekolah Pluralisme, Senin 23 Oktober 2017.
Mandagi mengungkapkan, kegiatan itu sudah merupakan
pokok-pokok program SAG Sulutteng yang terdiri dari 13 Sinode anggota PGI. “Sudah
menjadi program Sinode Am untuk kegiatan ini yang dilakukan beberapa tahap,”
papar Mandagi.
Dia menambahkan, Sekolah Pluralisme itu dimaksudkan agar
pemuda saling berkenalan, memahami keberadaan, dan mengakui realitas
masing-masing. “Kita harus mengakui, satu bumi tapi beragam. Saling belajar
untuk tidak memerlebar perbedaan tapi menemukan nilai kesamaan untuk hidup
dalam satu kebersamaan,” papar Mandagi.
Sementara itu, Sekretaris Departemen Misi dan
Penggembalaan SAG Sulutteng, Deeby Momongan mengatakan, dua pelaksanaan Sekolah
Pluralisme ini mau menanamkan pemahaman serta kesadaran untuk bagaimana
menghormati perbedaan. “Selanjutnya akan ada Sekolah Pluralisme tingkat lanjut
yang direncanakan dilaksanakan di Luwuk, Sulawesi Tengah, tahun 2017 mendatang,”papar
Momongan.
Untuk pelaksanaan Sekolah Pluralisme tahap dua ini,
diikuti 27 pemuda dari berbagai denominasi gereja seperti Gereja Masehi Injili
di Minahasa (GMIM), Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM), Gereja Masehi
Injili Sangihe dan Talaud (GMIST). “Selain itu dari Katolik, dan Islam. Dari
Islam, hadir juga penganut Ahmadiyah serta aktivis mahasiswa dari Institut
Agama Islam Negeri dan Nahdathul Ulama,” papar Momongan.
Untuk tim fasilitator terdiri dari Pdt Elga Sarapung
(Direktur Interfidei Yogyakarta), Denni Pinontoan (Teolog UKIT), Yoseph E
Ikanubun (Ketua AJI Manado), dan Rusli Umar (Ketua GP Ansor Manado) serta Ratna
Ruindungan dari SAG Sulutteng.
Hari pertama, Senin 23 Oktober 2017, peserta
difasilitasi oleh Sarapung dan Pinontoan untuk memahami adanya perbedaan dan
keragaman. Untuk hari kedua, Selasa (24/10/2017), puluhan pemuda ini akan
belajar bagaimana mengenal dan mengelola konflik. Materi selanjutnya adalah
Media Sosial dan Jurnlisme Damai.
Sekolah Pluralisme ini diawali sejak April 2017 silam
saat penyusunan modul yang dilaksanakan di Gereka Kristen Luwuk Banggai (GKLB)
oleh Tim Fasilitator. Setelah itu, pelaksanaan pertama di Gereja Masehi Injili
Bolaang Mongondow (GMIBM) Mopuya, Dumoga Utara, dan yang kedua di Panti Samadi
Tomohon.
Penulis: Yoseph E Ikanubun
No comments:
Post a Comment